20th
10.26
poems by freez meinster
enjoy^^
#1
pagi ini
melingkari peluk bumi yang hangat
bersandar kita pada cahaya-cahaya
pagi masih lemas berangkat
ketika embun bergantung malas
kita baru terjaga masing-masing
melangkah renggang bersama
menimpali indah dunia pagi
ketika burung berceloteh
makna tiap detik berubah
tidak kelu meranggas
di hari-hari yang lambat
ada tawa kita
ada senyum mereka
ada tangis kami
ada sedih kalian
#2
kau ada
dan aku yang berdiri sendiri
memandangi persegi-persegi semesta
hari masih setengah baya
aku masih merajuk, bersimpuh
penat meradang sirip-sirip
kepak tiap menit menyayat
merengek pada relung hari
harapku kau ada
dalam tiap gelontoran tawa
dalam tiap riak sendu air mata
#3
kita mengerti
lari ke tingkap yang terik
mencoba menerka di balik bias
apa yang Tuhan catat untuk kamu?
kemana garis nasib menarikmu?
keras deru padang hidup
membawa kita mengeras
bertautan pada doa
berharap terbaik untuk kita
Tuhan tak jarang bermurah
beri secarik ceritaNya
tentang manusia, tentang cinta
tentang harta, tentang apa yang buat kita mengerti
tapi selalu harapku
ada manusia dengan cinta
yang buat kita mengerti
#4
pergi
berlari menyusuri nadi yang lelah
mengecap rasa nyeri yang terselubung
terus menuju ujung mata
jauh hingga tinggal titik
titik itu melebar tanpa arah
hilang hingga raib dari semesta
terjaga ketika dasar mimpi
kusentuh dengan tangan
kasar, tak bernaluri
ingat untuk apa ku di sini
ingat dengan apa ku berdiri
ingat siapa aku ini
teringat dalam bias-bias beku
kau pergi tanpa hangat
sapa biasa yang aku rasa
#5
sepi
rata dalam kesenduan malam
datar melangkah riang
tampak remang ketika cahaya
ketika bulan tak sempurna
tersenyum, tertutup kelam
seutas nama dalam pandangan
aku berjalan tanpa nama
berjalan tanpa pandang
saling terpampang
tanpa berdecak roman
sepi kembali melenguh
mendekati hati
#6
dimana adamu?
selisir bayu berangsur nyaman
petang tanpa bekas beranjak
melepas terik tengah hari
gumpalan asa berakal bersama
melawan lamunan inginku
berujung dihantarkan kesal
dan terus aku meratapi
tanpa mengerti akhir ini
pergi lama juga apa
kelambu waktu melebar semesta
terjajak lama, dimana adamu?
#7
sore
tepi-tepi sore merapat di barat
berbekal hampaan petang ini
melembut, menggarang dunia
sempit sudut-sudut cahaya sore
telah lelah bernafas
telah jengah melangkah
berujung menyandar pada malam
butiran awan kerap melayang
rendah, riang, semangat
segugus angin melarik
melamun menunggu sore
#8
lamunan pena hitam
ingatan menguap akan hari-hari
kembali berdiri dalam sisi kamarku
lirik almari tampak telisik sekali
“orang asing”, hardik jendela
udara meregang lemas
hempas, lalu berlari keluar
sendiri, asing, lelah
kembali garis hari-hari
henti lamunan pena hitam
sendiri yang asing
tulis segugus kata-kata ini
#9
syukur
harga akan apa ada
bagi manusia biasa
termiliki selama ada
meratap ketika tiada
yang adalah Tuhan beri
lupa kadang syukur kita
hilang telah terlaksana
murka pada ilahi mereka
sisa tangis berada masih
tercekat sendu menggenang
tanpa ingat syukur lagi
tanpa ingat doa lagi
#10
sedetik malam
berdiri di sisi tiang-tiang malam
sempit detak kehidupan teraba
mungkin sepi sebabkan semua
tanpa satu dua yang lewat
berjalan di sisi tiang-tiang malam
menyesap khas kesunyian
lemah desir angin malam
sentuh tanpa hagat
#11
aku siapa dalam beku
emban ingin dan citanya
lelah terus bertanya
apalagi sisa dunia
dapat tanya ku menjawab